Siaran Bae

Kamis, 10 Mei 2012

BEASISWA “Membatasi Kritis Mahasiswa?”


Setiap mahasiswa tentu akan senang sekali mendapatkan beasiswa, yaitu “bantuan” yang diberikan secara tunai (bukan BLT programnya pemerintah) atau melalui rekening. Apapun itu tentu saja menyenangkan. Sama-sama mendapatkan uang untuk membayar kuliah, beli buku, membayar kosan, makan, atau mentraktir pasangannya (ga harus pacar, mungkin sahabat atau saudaranya). Gw pun merasakan hal yang sama, apalagi bukan berasal dari keluarga kalangan menengah ke atas. Bagi mereka yang amat sangat tercukupi tentu saja beasiswa bukanlah sebuah prestasi atau sesuatu yang perlu dikejar. Bagi gw beasiswa adalah modal hidup dikampus.
Beasiswa meringankan beban pikiran yang selama ini menghantui disetiap kondisi, terutama bila berhadapan dengan apapun yang mengharuskan keluar banyak uang. Kuliah pun akan lebih focus serta termotivasi karena dengan IP besar mampu mempertahankan beasiswa tersebut.
Beasiswa terkadang melemahkan bagi orang-orang yang tidak sadar fungsi adanya beasiswa itu sendiri. Termasuk dengan gw, seharusnya beasiswa yang gw dapetin mampu menyadarkan untuk lebih serius kuliah. Minimal tidak pernah bolos kecuali sakit yang mengharuskan istirahat total. Serta mampu meningkatkan prestasi akademik, minimal IP diatas 3,5. Justru gw semakin berani untuk mem-bolos kuliah dengan memilih mengikuti kegiatan-kegiatan seperti pelatihan, Training Of Trainer atau lomba non akademik.
“Ah, kuliah udah dibiayain ini. ga perlu khawatir. Yang penting IP 3 sudah aman.”
Benar atau salah silahkan dinilai sendiri, bagi gw IP bukanlah sebuah hal yang cukup menarik untuk dikejar. Sekalipun pernah baca dalam sebuah buku “Jangan Kuliah Kalo Ga Sukses” ada lulusan Teknik Informatika ITB dengan IPK 4 mengatakan:
“Jikalau IP bukan suat hal yang besar, apakah layak mendapatkan amanah yang lebih besar bila dengan hal yang kecil saja GAGAL.”
Sempat kalimat itu terngiang-ngiang dalam pikiran kemudian masuk dalam hati dan disebarkan oleh darah keseluruh tubuh. Hanya beberapa saat saja. Motivasi gw untuk bisa mengelilingi Indonesia yang kaya akan segalanya menutupi semua nasihat-nasihat dari siapapun yang mengharuskan gw dapet IP besar.
Kembali lagi kepada beasiswa, dalam benak gw yang paling dalam serta propokasi dari salah satu dosen. Beasiswa seolah membungkam mahasiswa untuk bebas mengekspresikan dirinya ketika melihat ketidakbenaran berlarian bebas dihadapan gw. Seperti satria baja hitam yang gagal berubah gara-gara lupa mantera akibat dipengaruhi monster “lupa”. Begitu juga dengan mahasiswa yang sengaja dibuat lupa dengan idealismenya sehingga diam tanpa berbuat apapun karena sudah nyaman di fasilitasi oleh kampus, yaitu beasiswa. Seperti halnya salah satu tokoh di film “GIE” yang sangat idealis ketika menjadi mahasiswa, bahkan cukup kritis melihat “ketidakharmonisan” pemerintahan di massa orde lama. Aksi dijalan dilakukan, membuat selembaran kritikan seolah kewajiban. Namun setelah lulus dan masuk menjadi anggota dewanh kemudian diberikan berbagai fasilitas. Bungkamlah dia.
Gw sendiri seperti halnya satria baja hitam, namun bisa berubah bila mau memilih resiko dengan perubahan yang dilakukan. Dan ini yang gw pilih.
“Bermula dari kegiatan demokrasi kampus, yaitu pemilihan Presiden Mahasiswa. Terdapat 3 calon pasangan. Setelah berakhir pemilihan terpilihlah pasangan Juhri-Bayu sebagai Presma. Namun ada beberapa hal yang membuat mereka digagalkan sebelum pelantikan. Sehingga disahkan pasangan Sandra-Haedi yang terpilih. Pada akhirnya kedua pasangan tersebut bersiteru dengan berbagai gaya masing-masing. Saling mempertahankan dan mengakui dirinya Presma. Hingga tiba waktunya mahasiswa baru berdatangan. Ospek universitas pun dijalankan. Namun tanpa diduga pada acar pembukaan terjadi keributan dua pasangan presema tersebut yang membuat beberapa mahasiswa terluka.
Siangnya gw dating kekampus hendak melihat kondisi ospek. Maklum lagi mendapat amanah sebagai Ketua Pelaksana Ospek fakultas. Berbekal informasi dari beberapa pihak membuat gw dan beberapa teman lainnya menarik mahasiswa baru (maba) FKIP untuk tidak melibatkan diri di Ospek universitas. Keributan kembali terjadi karena panitia ospek universitas tidak mengizinkan maba  FKIP menarik diri dari ospek Universitas. Sedang gw khawatir bila maba FKIP tidak menarik diri aka nada lagi korban selanjutnya akibat dua pasangan yang bersitegang.
Beberapa bulan kemudian, pembagian beasiswa PGN di bagikan secara tunai. Setiap mahasiswa yang berhak mendapatkannya diharuskan hadir untuk mengambil langsung. “Kecuali Deni Setiadi, silahkan mengambil beasiswa tersebut.” Begitu salah satu pegawai kemahasiswaan berbicara.
“Deni. Beasiswa kamu ditahan sampai menyerahkan berkas permohonan maaf karena telah melakukan penarikan massa ketika acara ospek universitas. Kamu harus meminta maaf kepada Rektor, PR3, Kabag Kemahasiswaan, serta panitia ospek universitas. Dibuktikan dengan surat pernyataan yang ditandatangi mereka”
Bagi gw minta maaf bukan suatu hal yang sulit dilakukan, sebelum mereka menyuruh meminta maaf. Gw sendiri sudah melakukannya. Karena dikhawatirkan mempunyai kesalahan selama berinteraksi dengan mereka. Namun gw diharuskan meminta maaf karena melakukan penarikan maba FKIP.  Tentu ukan karena gengsi gw tidak menuruti kemauan mereka. Apa yang dilakukan dulu merupakan sebuah hal yang benar bagi gw. Demi keamanan dan keselamatan maba FKIP yang pada saat itu gw sendiri mempunya tanggung jawab untuk menjaga mereka.
Berbagai masukkan dan interpensi akhirnya mengharuskan gw meminta maaf, dan uang itu pun diberikan. Entah ini nasihat atau ancaman, namun bagi gw lebih ke sebuah masukan untuk tidak banyak berperilaku tidak menyenangkan menurut mereka yang bisa merugikan atau menurunkan grade mereka.
“Awas saja, kalau merusak atau mengganggu lagi acara kampus. Beasiswa siap-siap diputus.”
Namun itu tidak terjadi untuk kali ini. sempat terjadi kesalahan data IPK dimana gw yang seharusnya IPK diatas 3 justru tercantum di Pusat Data dan Informasi (Pusdainfo) dibawah 3. Sebenarnya tinggal gw hubungi pusdainfo dengan memperlihatkan bukti bahwa IPK gw diatas 3 cukup menyelamatkan untuk tetap mendapat beasiswa PGN. Ah, lagi-lagi idealisme muncul yang membuat gw belum merubah kesalahan data tersebut.
“Biarlah tidak dapat beasiswa lagi, setidaknya mengurangi beban gw terhadap pemberi beasiswa dan membebaskan diri untuk bebas berekspresi serta kritis ketika ketidakbenaran itu kembali ada tanpa takut ancaman pencabutan beasiswa.”
Denis Khawarizm

2 komentar:

  1. kritis tulisannya.. menarik..
    sukses selalu kawan..

    blogwalking sambil
    Mengundang juga rekan blogger
    Kumpul di Lounge Event Tempat Makan Favorit

    Salam Bahagia

    BalasHapus
  2. keren, semoga terus menjadi pribadi yang bisa berani bertindak untuk kebenaran

    BalasHapus